MEMAHAMI PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DAN SINTAKSNYA

Secara harafiah jigsaw diartikan sebagai sebuah gergaji ukir. Sedangkan jika kita merangkaikannya menjadi kalimat Model pembelajaran Jigsaw, diartikan sebagai model pembelajaran dimana siswa diajak berkelompok dengan jumlah kecil (3-5 orang per kelompok), lalu dalam kelompok tersebut siswa harus belajar bersama dengan cara berdiskusi. Diskusi dalam kelompok dipimpin oleh siswa yang memiliki pemahaman tentang materi lebih dari anggota yang lainnya.

model pembelajaran jigsaw

Inti dari model pembelajaran jigsaw ini adalah, materi yang didiskusikan merupakan tanggung jawab satu kelompok untuk memahaminya. Tanggung jawab ini bentuknya adalah setiap anggota kelompok harus memiliki pemahaman yang jelas setelah melakukan diskusi kelompok. Dalam metode pembelajaran jigsaw anggota kelompok sengaja dipilih yang memiliki kemampuan daya serap materi pelajaran secara heterogen. Hal ini bermaksud supaya dalam satu kelompok terjalin kerjasama dan komunikasi yang efektif antara siswa yang menguasai materi dengan siswa yang belum menguasai materi.

Langkah langkah Penerapan metode jigsaw

  1. Guru dapat mengawali dengan menyampaikan materi pembelajaran terlebih dahulu. Awalan penjelasan ini dimaksudnya sebagai stimulus daya berpikir siswa tentang materi yang akan diajarkan.
  2. Guru selanjutnya membagi siswa dalam sebuah kelompok kecil (dapat beranggotakan 3-5 siswa). Namun perlu diingat, kemampuan afektif siswa dalam tiap kelompok hendaknya bersifat heterogen.
  3. Setelah terbentuk kelompok, selanjutnya guru memberikan sebuah pendalaman materi (dapat berupa kajian fakta lapangan), untuk kemudian didiskusikan oleh tiap kelompok.
  4. Guru memastikan siswa yang memiliki kemampuan afektif yang di atas rata-rata anggota kelompok harus mampu memberikan bimbingan kepada anggota kelompoknya dengan baik.
  5. Kesimpulan diskusi dapat dilaporkan secara lisan oleh semua anggota kelompok. Jika secara keseluruhan anggota dalam kelompok tersebut mampu menyampaikan hasil diskusi, maka dapat dikategorikan komunikasi dan bimbingan antar siswa dalam kelompoknya dapat berjalan sukses.


Jika kita mencermati dari langkah-langkah di atas, kita dapat melihat beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dengan seksama agar tidak mengganggu kelancaran perencanaan penerapan metode jigsaw. Beberapa hal tersebut antara lain:
  • Jika guru tidak mampu memilih kemampuan afektif siswa secara heterogen, maka akan terjadi ketimpangan dalam sebuah kelompok. Oleh karena itu dalam hal ini guru harus benar-benar memahami karakter siswa.
  • Jika antara anggota kelompok yang memiliki kemampuan afektif di atas rata-rata anggota yang lain ternyata tidak mampu mengomunikasikan (membimbing) peserta yang lain, maka inti metode pembelajaran jigsaw tidak akan berjalan.
  • Kemampuan komunikasi antar anggota juga harus berjalan secara optimal. Hal ini bisa diupayakan dengan guru selalu mengelilingi setiap kelompok untuk memastikan jika ada kelompok yang macet pola kemunikasinya.
  • Pola kepemimpinan juga harus nampak dalam kelompok, karena tanpamunculnya pola kepemimpinan maka diskusi tidak akan berjalan dengan baik.
Baca juga artikel tentang Model Pembelajaran Ekspositori

Oleh sebab itu jika guru ingin menggunakan model pembelajaran jigsaw, maka harus benar-benar memahami apa yang menjadi kekurangan model jigsaw ini. Kesimpulannya, keberhasilan metode jigsaw tergantung pada pola komunikasi yang terbangun antara masig-masing siswa dalam kelompok. Demikian pembahasan yang dapat admin sampaiakan dalam blog anekamodelpembelajaran.blogspot.co.id ini tentang model pembelajaran kooperatif type jigsaw semoga bermanfaat.

0 comments:

Posting Komentar